Penerapan Metode AHP TOPSIS dalam Sistem Pendukung Keputasan Pemilihan Bibit Padi Unggul di Kabupaten Pamekasan Berbasis Blue Economy
Keywords:
Sistem Pendukung Keputusan, AHP, Bibit Padi, TOPSISAbstract
Bibit merupakan faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan dalam budidaya
tanaman padi. Proses budidaya padi diawali dengan pemilihan bibit yang unggul karena
bibit menjadi komponen utama yang akan dikembangkan pada tahap berikutnya. Sebagai
pembawa sifat genetik dari induknya, bibit berperan dalam menentukan karakteristik
tanaman saat berproduksi. Oleh karena itu, untuk memperoleh bibit padi yang berkualitas,
perlu dilakukan pemilihan dari induk yang memiliki mutu tinggi. Kualitas bibit menjadi
kunci utama keberhasilan budidaya, karena bibit unggul mampu beradaptasi dengan baik,
tumbuh cepat dan seragam, tahan terhadap hama, serta memiliki produktivitas tinggi.
Namun, dalam praktiknya, banyak petani mengalami kesulitan dalam menentukan bibit
yang tepat. Berdasarkan permasalahan tersebut, dikembangkan sebuah sistem pendukung
keputusan yang dapat membantu petani dalam memilih bibit padi sesuai dengan kondisi
lingkungan tanam dengan mempertimbangkan berbagai kriteria. Sistem ini dirancang
menggunakan dua metode, yaitu Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Technique for
Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Metode AHP digunakan untuk
menentukan bobot setiap kriteria, sedangkan metode TOPSIS diterapkan untuk melakukan
proses perankingan alternatif bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam
alternatif bibit yang diuji—Inpari 32, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, Inpari 41 Tadah
Hujan, Inpari 34, Inpago 8, dan Diah Suci—bibit Inpari 32 memperoleh nilai preferensi
tertinggi sebesar 0,741, diikuti oleh Inpari 38 Tadah Hujan Agritan dengan nilai 0,708.
Berdasarkan hasil tersebut, sistem merekomendasikan bahwa bibit padi Inpari 32 dan Inpari
38 Tadah Hujan Agritan merupakan pilihan terbaik untuk ditanam di Kabupaten
Pamekasan.
